Blog Ustadz Adi
  • Sample Page
  • Sample Page
Tadabbur

Hanya untuk Orang Beriman

by ustadzadi September 30, 2019
written by ustadzadi

Allah ta’ala berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 25,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”

Di dalam ayat yang agung ini Allah ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya (juga kepada para ‘ulama dan da’i, yang melanjutkan tugas dakwah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam) agar memberikan kabar gembira kepada:

الَّذِينَ آمَنُوا “Orang-orang yang beriman” dengan hati mereka,

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ “dan mengerjakan amal-amal sholeh” dengan anggota tubuh mereka, mereka istiqomah dalam mengerjakan amal-amal yang diwajibkan dan disunnahkan sebagai bukti keimanan yang ada di dalam hati mereka.

Allah ‘azza wa jalla menyebut amal kebaikan dengan amal sholeh, karena dengan amal kebaikan itu kehidupan kita di dunia dan di akhirat akan menjadi sholeh (baik).

Maka berilah kabar gembira, bahwa kelak mereka akan mendapatkan di dalam surga, taman-taman yang pepohonannya begitu indah dan menakjubkan, buah-buahannya menggiurkan.

Di bawah pohon dan rumah mereka mengalir sungai-sungai yang mereka bisa mengarahkan arus dan alirannya ke arah mana mereka kehendaki.

Di dalam surga Allah ta’ala akan memberikan untuk mereka rezeki berupa buah-buahan yang matang dan sangat lezat. Yang aroma dan kelezatannya jauh melebihi buah-buahan yang pernah mereka nikmati di dunia. Terus-menerus mereka merasakan kelezatan dengan menikmati buah-buahan di surga itu.

Dan di dalam surga mereka akan mendapatkan istri yang suci dari semua jenis aib.

Tubuh mereka suci dari haidh dan berbagai jenis kotoran, serta penampilan mereka adalah penampilan yang sempurna baik paras kecantikannya maupun keindahan tubuhnya.

Selain fisik mereka yang suci dari berbagai macam aib dan kotoran, demikian pula akhlak dan hati mereka, suci dari berbagai macam keburukan. Akhlak-akhlak mereka yang penuh dengan cinta dan kasih sayang yang disukai oleh suami mereka, terus menerus mereka berhias diri dengan akhlak yang indah dan bertata krama yang elok menawan baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sopan dan penuh kasih sayang perkataan yang keluar dari lisan mereka, penuh khidmat dan pelayanan dengan perbuatan mereka.

Di dalam surga mereka akan mendapatkan kenikmatan yang terus menerus dan kekal abadi. Jauh berbeda dengan kenikmatan dunia yang semu dan serba terbatas.

Mudah-mudahan Allah ta’ala menambah dan meneguhkan keimanan dalam hati kita, dan memberikan kepada kita hidayah untuk bisa tetap istiqamah dalam mengerjakan amal-amal sholeh yang Dia ridhoi, serta memasukkan kita ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.

Aamiin.

September 30, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Dampak Buruk Maksiat
Tadabbur

Dosa Dibalas Dosa

by ustadzadi September 19, 2019
written by ustadzadi

Allah ta’ala berfirman,

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakitnya.. (Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 10)

Di dalam ayat yang agung ini Allah ta’ala menjelaskan tentang keadaan orang-orang munafik, “dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakitnya.. ” disini terdapat penjelasan bahwa dosa dan kemaksiatan yang mereka kerjakan pada hakikatnya adalah hukuman dari Allah disebabkan dosa dan kemaksiatan yang dahulu mereka kerjakan.

Di dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman,

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya.”
(Al-Qur’an Surah al-An’am ayat 110)

Allah ta’ala juga berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.”
(Al-Qur’an Surah Ash-Shaff ayat 5)

Maka diantara bentuk hukuman dari kemaksiatan adalah berupa kemaksiatan berikutnya, sebagaimana sebuah kebaikan akan diganjar oleh Allah dengan kebaikan setelahnya.

Allah ta’ala berfirman

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk..” (Al-Qur’an Surah Maryam ayat 76)

Di dalam kitabnya Ad-Daa’ wad Dawaa’, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

Kemaksiatan akan menanam benih kemaksiatan yang semisalnya. Sebagiannya melahirkan sebagian yang lain. Sampai-sampai, pelakunya merasa sulit untuk meninggalkan dan keluar dari maksiat tersebut.

Sebagian Salaf mengatakan: “Hukuman dari keburukan adalah munculnya keburukan setelahnya, sedangkan ganjaran dari kebaikan adalah munculnya kebaikan sesudahnya. Jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka kebaikan lain akan berkata kepadanya: “Amalkan aku juga.” Apabila dia melakukannya, maka kebaikan lain lagi akan mengatakan hal serupa, demikianlah seterusnya. Alhasil, berlipat gandalah keuntungannya dan bertambahlah kebaikannya. Demikian dulu dengan maksiat. Hal ini terus berlangsung hingga ketaatan atau kemaksiatan menjadi suatu sifat dan kebiasaan yang melekat dan tetap pada diri seseorang. (selesai nukilan dari beliau).

Oleh karenanya saudaraku, bersungguh-sungguhlah dalam menjauhi segala bentuk dosa dan kemaksiatan, baik yang besar maupun yang kecil, karena bisa jadi tanpa kita sadari dosa yang kita anggap remeh di hari ini, akan mengundang dosa besar di masa yang akan datang, sehingga mewariskan kehinaan pada diri kita.

September 19, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail
hadits

Segala Amal Perbuatan Tergantung pada Niatnya

by ustadzadi September 14, 2019
written by ustadzadi

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari kesenangan dunia yang hendak didapatkannya atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya kepada apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Hadits yang agung ini adalah hadits yang merupakan poros dan inti dari agama Islam. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Hadits ini adalah sepertiga ilmu, dan ia masuk dalam tujuh puluh bab fikih.”

Dan dijelaskan oleh sebagian ‘ulama bahwa bilangan tujuh puluh yang disebutkan Imam Asy-Syafi’i ini bukanlah pembatasan bahkan jumlahnya lebih dari itu, karena hampir semua bab fiqh berkaitan dengan hadits yang agung ini.

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amal perbuatan yang kita kerjakan itu ditentukan oleh niat, diterima atau tidaknya amalan ditentukan oleh niat.

Ikhlas karena Allah adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal. Sebab Allah hanya akan menerima amal yang dikerjakan secara ikhlas dan benar. Ikhlas artinya amal itu dilakukan karena Allah, dan benar artinya amal itu dikerjakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan perkara niat tidak hanya berkaitan dengan diterima atau ditolaknya suatu amalan, tetapi niat juga menentukan besarnya pahala dan keutamaan yang kita dapatkan di sisi Allah. Semakin besar keikhlasan dan ketulusan kita dalam beramal, maka semakin besar pahala yang akan kita dapatkan. Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullah: “Berapa banyak amal yang kecil berubah menjadi suatu yang besar karena niat, dan (sebaliknya) berapa banyak amal yang besar menjadi kecil juga karena niat.”

Oleh karena itu, sebagaimana kita bersemangat dalam menjaga amal kita, jangan lupa menjaga niat yang berada dalam hati kita. Karena hanya dengan niat yang baiklah kita akan mendapatkan apa yang kita tuju dari amal, yaitu pahala dan keridhaan dari Allah ta’ala. Bahkan niat yang baik lebih kuat dan lebih besar pengaruhnya dalam mengantar kita untuk mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah. Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata: “Pelajarilah niat, karena sesungguhnya niat itu lebih besar pengaruhnya dari pada amal.”

Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepada kita semua niat yang ikhlas dan hati yang bersih.

September 14, 2019 0 comment
0 FacebookTwitterPinterestEmail

Recent Posts

  • Hanya untuk Orang Beriman
  • Dosa Dibalas Dosa
  • Segala Amal Perbuatan Tergantung pada Niatnya

Recent Comments

    Archives

    • September 2019

    Categories

    • hadits
    • Tadabbur

    Meta

    • Log in
    • Entries RSS
    • Comments RSS
    • WordPress.org
    • Facebook
    • Twitter

    @2019 - All Right Reserved. Designed and Developed by PenciDesign


    Back To Top